Source : Animonster #53
[Show Original Post]
"Ronri no senritsu wa kanarazu shinjitsu o shimesunda." [~Narumi Ayumu~]
[Melodi logis pasti akan menampakkan kebenaran]
Ah, lagi-lagi Aniki mendapat penghargaan, pikirku sambil menghempaskan diri ke kursi tempat menuggu KA. Kubuang koran yang memberitakan serah terima penghargaan itu ke tempat sampah. Kulirik jam sudah menunjuk pukul 9, kuputuskan untuk bolos saja karena memang sudah sangat terlambat masuk sekolah. Aku duduk melamun menatap orang-orang lalu lalang. Pikiranku melayang ke beberapa tahun lalu, ketika Aniki masih bermain piano. Dan aku, adik satu-satunya, juga ikut mempelajari piano.
Betapa kerasnya aku berusaha, tetap saja orang hanya memandang Aniki. Bahkan ibu tidak pernah memuji permainanku, hanya Aniki yang selalu dibanggakannya. Aku masih tahan, sampai suatu saat kudengar guru pianoku berkata pada seseorang bahwa permainanku tidak lebih dari fotokopi Aniki. Sejak saat itu kuputuskan berhenti bermain piano, meski Aniki terlihat menyesali keputusanku dan sering bertanya apa alasanku berhenti. Dan jawabanku selalu sama,
"Aku tidak berbakat bermain piano."
Tiba-tiba kusadari ada wanita berdiri di depanku. Ia memandangi sambil mengatakan,
"Hei, sekarang sudah jam masuk sekolah. Mengapa kamu disini?"
Akhirnya wanita itu duduk disampingku dan menemani ngobrol. Wanita itu seperti Aniki, ia juga bekerja di kepolisian.
Sejak hari itu, aku sering bertemu dengannya di stasiun dan kami sering ngobrol berdua. Aku mulai tertarik pada wanita ini yang meski jauh lebih tua, tapi bisa nyambung ngobrol denganku.
Seperti biasa, aku menyiapkan sarapan pagi di rumah tempat aku tinggal berdua dengan Aniki.
"Ayumu," panggil Aniki.
"Ya," jawabku sambil tetap memasak omelette.
"Hari ini pulang cepat, ya. Ada seseorang yang ingin kukanalkan padamu," kata Aniki.
"Ok," balasku sambil menaruh omelette ke piring. Hm, paling Aniki ingin membawa pacarnya yang sudah lama ia rahasiakan.
Sore itu ketika aku sedang memasak, terdengar suara Aniki.
"Ayumu, aku pulang."
Aku bergegas keluar membuka pintu dan terpana melihat wanita yang datang bersama Aniki.
"Ah," hanya itu yang keluar dari mulut kami secara bersamaan.
"Ayumu, kenalkan, ini rekan kerjaku," kata Aniki sambil memegang bahu wanita itu.
Wanita itu langsung memperkenalkan diri.
"Hai Ayumu, aku Haneoka Madoka. Kita sering bertemu kan di stasiun," sapanya sambil tersenym manis.
Tapi saat itu hanya satu yang terlintas di hati.
Lagi-lagi aku kalah dari Aniki.
"Taisetsuna no wa shinjiru koto da. Jibun no chikara o, Kami-sama o shuukufuku o, shinjirarenai mono wa unmei o koerarenai." [~Narumi Kyotaka~]
[Percaya itu penting. percaya pada kekuatan sendiri, pada anugerah Tuhan. Orang yang tidak percaya tidak akan bisa melampaui takdirnya]